Senin, 30 September 2019

Alat Musik Tradisional Sumatera Barat


Alat Musik Tradisional Sumatera Barat

1. Bansi

Alat musik tradisional yang bentuknya sama dengan alat musik Suling. Tentunya bansi juga dimainkan sama seperti cara memainkan Suling dan jarak lubangnya juga tidak terlalu jauh, sehingga bisa dimainkan oleh pemain yang tidak memiliki jari panjang. Bansi juga dikenal mudah dipelajari karena ukurannya pendek dan lubangnya hanya ada 7. Bansi juga bisa digunakan untuk mengiringi musik baik itu tradisional ataupun modern.Bansi juga sering digunakan dalam penampilan tari tradisional Pasambahan, Bansi biasanya dimainkan bersama Saluang. Bansi lebih dikenal sebagai alat musik jenis seruling pendek khas Minang
 

2. Gendang Tabuik

Menurut sejarahnya, Tabuik berasal dari “orang India” yang ikut pasukan Islam Thamil di Bengkulu pada abad ke-18, setelah perjanjian London pada abad yang sama Bengkulu dikuasai Belanda dan akhirnya banyak masyarakat yang menyebar hingga ke Pariaman. Dalam kebudayaan Minangkabau, cukup banyak acara adat yang ada kaitannya dengan tradisi Islam salah satunya Oyak Tabuik di Pariaman, perayaan yang dilaksanakan untuk memperingati hari meninggalnya cucu Nabi Muhammad S.A.W pada perang KarbelaGendang ini merupakan alat musik yang tidak bernada karena sifatnya yang digunakan sebagai alat musik perkusi, sampai sekarang anda masih bisa melihat bentuk fisik Gendang Tabuik ini di daerah Maninjau atau daerah pariaman. Biasanya alat musik ini digunakan untuk upacara ritual di daerah tersebut.
 



3. Pupuik Batang Padi

Bentuknya memang sedikit aneh dan suara yang dihasilkan pun sangat sederhana dan juga kurang mengesankan bagi pendengar, namun ternyata alat musik Pupuik batang padi memiliki fungsi yang sangat penting. Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, alat musik ini memiliki peran penting dalam sebuah ritual tradisional. Pupuik batang padi biasanya dimainkan saat upacara adat yang berhubungan dengan panen (mengungkapkan kebahagiaan). Meskipun hanya mengeluarkan 1 tangga nada, suara melengking dari alat musik tradisional ini mampu memecah keheningan sebuah acara.
 

4. Pupuik Tanduak

Menurut informasi yang saya dapat, masyarakat Minangkabau memiliki keyakinan bahwa setiap bagian dari tubuh kerbau memiliki fungsi selain dagingnya saja. Kulit yang selesai disamak juga dapat diolah menjadi berbagai barang keperluan harian, selain itu tanduk kerbau juga memiliki kegunaan tersendiri bagi masyarakat daerah sana, khususnya daerah pedesaan. Salah satu manfaat dari tanduknya adalah dapat dibuat menjadi sebuah alat musik tradisional yang bernama Pupuik tanduak. Alat muisik ini terbuat dari tanduk kerbau yang ujungnya dipotong datar untuk meniup. Bentuk alat musiknya mengkilat dan hitam bersih.
Pupuik tanduak jarang digunakan untuk mengiringi sebuah lagu atau pun sebagai pengiring instrumen musik, melainkan digunakan sebagai peluit sehingga hanya 1 nada yang dihasilkan. Dulunya Pupuik tanduak digunakan sebagai aba-aba, atau pertanda shalat atau pemanggil warga untuk sebuah pengumuman.
 

Masyarakat yang bekerja sebagai nelayan-pun juga memanfaatkan Pupuik tanduak sebagai komando kepada awak kapal, atau pertanda adanya air pasang atau bahkan ada gejala alam yang sedang mendekat.
 


5. Saluang

Saluang bisa dibilang pasangan dari Bansi dalam setiap penampilannya, alat musik Sumatera Barat ini memiliki ukuran yang lebih panjang jika dibandingkan dengan Bansi, perbedaannya adalah pada suaranya yang khas merdu dan lembut ditelinga.
 

 

Alat musik tradisional Minang ini terbuat dari bambu tipis atau talang yang berukuran 60 cm dan berdiameter 3 – 4 cm.
Bentuk Saluang
Pada bagian atas Saluang berbentuk kerucut / runcing sekitar 40° – 45° (derajat) tergantung dari ketebalan bambu. Kemudian, terukur 2/3 dari panjang bambu dibuatkan lubang pada tubuh Saluang sebanyak 4 buah lubang.
Setelah itu diukur lagi dari bagian atas dan seterusnya hingga lubang terakhir yang terdapat pada setengah dari panjang ukuran Saluang. Selain itu, lubang yang ada di Saluang juga dihitung secara baik, besar garis tengahnya sekitar 0,5 cm.
Tiap daerah disana memiliki ciri dan teknik yang berbeda-beda, bahkan ada teknik untuk memainkan Saluang sambil meniup dan menarik nafas (bermain tanpa terhenti), tentunya dengan latihan.